Puisi A7

 

Menu Puisi

Ketika Kata Tak Lagi Bermakna

Ada saatnya, bibir terkatup rapat,

Lidah kelu, hati terasa terjerat.

Rentetan aksara, dulu indah terucap,

Kini hampa, tak mampu lagi mengecap.


Janji-janji manis, seumpama madu,

Kini pahit, memudar ditelan waktu.

Sumpah setia, dulu begitu perkasa,

Hanya jadi gema, tak lagi bertenaga.


Kata-kata cinta, yang pernah merekah,

Kini layu, gugur tak bertuah.

Sebab luka terlampau dalam merasuk,

Hingga bahasa pun terasa menusuk.


Bukan karena tak ada yang ingin dikatakan,

Namun karena hati terlalu penuh dengan beban.

Setiap huruf terasa berat, terbebani,

Oleh kecewa yang tak mampu tersembunyi.


Maka biarlah hening yang berbicara,

Dalam diam, mungkin ada makna yang tersisa.

Di antara jeda, di antara napas tertahan,

Tersimpan kebenaran yang tak terucapkan.


Ketika kata tak lagi memiliki arti,

Hanya tatapan mata yang bisa mengerti.

Bahasa jiwa, lebih jujur, lebih nyata,

Mengalirkan rasa, tanpa perlu aksara.


Jadi, biarlah ini menjadi saatnya,

Ketika kata tak lagi bermakna.

Biarkan hati yang bicara, tanpa suara,

Sebab ada hal yang lebih dalam dari aksara