Cerpen 5

 

Menu Cerpen

 

Tetangga di Lantai Atas

Suara gesekan kursi dan dentuman samar selalu menjadi alarm pagi bagi Dita. Tinggal di apartemen kecil di pusat kota Medan memang berarti toleransi terhadap suara adalah kunci. Tapi tetangga di lantai atas, Nona Arini, entah bagaimana selalu berhasil menarik perhatiannya dengan ritme hidupnya yang unik.

Dita tak pernah benar-benar melihat Nona Arini. Hanya sekilas bayangan di koridor, atau suara langkah kaki yang terburu-buru. Namun, melalui suara-suara yang merambat dari langit-langit kamarnya, Dita seolah membangun sebuah gambaran tentang perempuan itu.

Pukul 06.00, pasti ada suara seperti sesuatu digeser—mungkin kursi. Pukul 07.30, dentingan sendok dan garpu, disusul aroma roti panggang dan kopi yang sesekali tercium samar. Pukul 08.00, suara langkah tergesa-gesa, lalu pintu lift terbuka dan tertutup. Nona Arini pasti bekerja.

Yang paling menarik adalah suara-suara di malam hari. Terkadang ada alunan melodi piano yang lembut, meskipun terputus-putus, seolah Nona Arini sedang belajar. Kadang, ada tawa kecil, atau percakapan telepon yang tak jelas. Dita sering membayangkan, apakah Nona Arini seorang seniman, atau sekadar penyuka musik yang sedang mencari jati diri?

Suatu malam, sekitar pukul sebelas, Dita terbangun karena suara yang berbeda. Bukan gesekan atau dentingan, melainkan suara isak tangis yang tertahan. Suara itu begitu jelas menembus plafon, membuat Dita ikut merasakan kesedihan yang tak diketahui alasannya. Ia berbaring, mencoba menebak-nebak apa yang terjadi di atas sana. Apakah Nona Arini baru saja putus cinta? Atau ada kabar buruk? Hati Dita ikut terenyuh.

Keesokan paginya, rutinitas Nona Arini kembali seperti semula, seolah tak ada yang terjadi. Suara gesekan kursi, dentingan sarapan, dan langkah tergesa-gesa. Dita merasa sedikit lega, namun rasa penasarannya semakin besar.

Seminggu kemudian, saat Dita sedang menunggu lift, pintu lift di lantai atas terbuka dan sesosok wanita keluar. Ia membawa beberapa pot tanaman kecil. Wanita itu tersenyum tipis padanya. "Pagi," sapanya ramah.

Dita membalas senyum. "Pagi, Nona Arini?" tanyanya ragu.

Wanita itu tertawa kecil. "Betul sekali. Anda Dita, bukan?" Ia menunjuk ke pintu apartemen Dita yang persis di bawahnya. "Saya sering mendengar suara ketukan dari lantai bawah kalau saya main piano terlalu keras."

Dita tersipu. "Oh, maaf. Bukan maksud saya mengganggu."

"Tidak apa-apa," kata Nona Arini. "Kadang saya memang suka lupa diri kalau sudah main musik." Ia menatap pot-pot tanamannya. "Saya baru saja pulang dari toko bunga di Jalan Wahidin. Mau mencoba menanam beberapa tanaman hias. Katanya bisa membuat suasana hati lebih baik."

Dita mengangguk. "Itu ide bagus." Ia teringat suara tangisan malam itu. Apakah ini cara Nona Arini mencari ketenangan?

Nona Arini kembali tersenyum. "Omong-omong, minggu lalu saya agak kacau. Ada masalah keluarga. Maaf kalau sampai membuat bising di lantai bawah."

Dita terkejut. Jadi, tangisan itu memang benar. Ia merasa sedikit canggung. "Tidak apa-apa, Nona Arini. Saya harap semuanya sudah membaik."

"Sudah lebih baik, kok. Terima kasih," jawab Nona Arini. "Oh, dan nama saya Arini saja. Tidak perlu Nona."

Sejak hari itu, Dita tidak hanya mendengar suara-suara dari lantai atas. Ia juga mulai berpapasan dengan Arini sesekali di lift atau di koridor. Kadang mereka bertukar sapa, kadang hanya tersenyum. Dita masih mendengar suara gesekan kursi, dentingan sarapan, dan alunan piano yang kadang sumbang, kadang merdu. Tapi kini, setiap suara itu terasa lebih personal, lebih manusiawi.

Suara-suara dari tetangga di lantai atas bukan lagi sekadar bising. Ia adalah simfoni kehidupan, berisi suka, duka, tawa, dan tangis yang berbagi ruang di tengah hiruk pikuk kota. Dan Dita, di apartemen kecilnya, merasa sedikit tidak sendiri.