Cerpen 4
Menu Cerpen
Pertemuan di Stasiun Kota
Deru kereta sore memecah hiruk pikuk Stasiun Kota Medan. Di antara kerumunan penumpang yang lalu lalang, seorang pria dengan jaket kulit lusuh berdiri mematung. Wajahnya yang keriput dan tatapan matanya yang jauh menyiratkan kisah panjang. Ia adalah Pak Hadi, seorang pensiunan masinis, yang setiap sore duduk di bangku peron nomor tiga, tempat ia biasa menunggu kereta terakhir tiba.
Bukan karena ia ingin naik kereta, melainkan karena kebiasaan. Stasiun ini adalah saksi bisu separuh hidupnya. Ia ingat setiap sudutnya, setiap suara, setiap aroma yang khas. Ia ingat tawa rekannya, tangisan bayi yang baru lahir, dan perpisahan yang haru biru. Semua kenangan itu berputar di benaknya seperti roda lokomotif yang terus berputar.
Hari ini, seperti biasa, Pak Hadi menyesap kopi pahitnya dari gelas plastik. Matanya mengawasi orang-orang. Beberapa adalah wajah yang akrab, para pedagang asongan, petugas stasiun, atau penumpang reguler. Namun, sore itu, pandangannya terpaku pada seorang wanita muda yang duduk di bangku seberang.
Wanita itu mengenakan gaun sederhana berwarna biru laut. Rambutnya tergerai dan matanya fokus pada sebuah buku tebal di pangkuannya. Ada sesuatu yang familiar dari dirinya, meskipun Pak Hadi yakin ia belum pernah melihatnya. Semakin ia menatap, semakin kuat perasaan itu.
Tiba-tiba, buku di tangan wanita itu terjatuh. Pak Hadi, tanpa pikir panjang, beranjak dan memungutnya. "Ini, Nak," katanya sambil menyodorkan buku itu.
Wanita itu mendongak, matanya yang besar dan hitam menatap Pak Hadi. Ada sebersit keterkejutan, lalu senyum tipis mengembang di bibirnya. "Terima kasih, Pak," ucapnya lembut. Suaranya… suara itu! Jantung Pak Hadi berdesir.
"Maaf, Nak. Bolehkah saya bertanya?" Pak Hadi memberanikan diri. "Nama Nak siapa?"
Wanita itu tersenyum lagi. "Saya Ayu, Pak. Ayu Wulandari."
Mendengar nama itu, tangan Pak Hadi sedikit bergetar. Wulandari. Itu nama keluarga istrinya yang telah tiada. Dan suara itu… sangat mirip. "Apakah... apakah Nak ada hubungan dengan keluarga Wulandari dari Pematangsiantar?" tanyanya, suaranya sedikit serak.
Ayu mengernyitkan dahi. "Iya, Pak. Ibu saya namanya Wulandari. Kami memang dari Siantar. Bagaimana Bapak tahu?"
Mata Pak Hadi berkaca-kaca. "Saya... saya pamannya ibumu, Nak. Paman Hadi. Sudah lama sekali saya tidak bertemu mereka. Setelah saya pensiun dan menetap di Medan, hubungan kami terputus."
Ayu tampak terkejut. Ia menatap Pak Hadi dengan pandangan tak percaya. "Paman Hadi? Ibu sering bercerita tentang Paman. Katanya Paman dulu masinis hebat, dan sering membawa oleh-oleh dari kota." Ada senyum cerah di wajahnya, senyum yang mirip dengan senyum mendiang istri Pak Hadi.
Pertemuan tak terduga di tengah riuhnya Stasiun Kota itu seolah menjadi keajaiban. Dua orang asing, terhubung oleh untaian masa lalu yang tak disengaja. Pak Hadi merasa ada kehangatan yang mengalir, mengisi kekosongan yang lama bersarang di hatinya. Ayu pun merasakan hal yang sama, seolah menemukan bagian dari keluarga yang selama ini hanya ia dengar dari cerita.
Mereka duduk berdua di bangku peron, di tengah suara pengumuman dan deru kereta yang terus berdatangan dan pergi. Kali ini, Pak Hadi tidak hanya sekadar menunggu kereta. Ia menunggu kisah-kisah baru terukir, kisah tentang keluarga yang kembali bersatu, dimulai dari sebuah pertemuan sederhana di Stasiun Kota. Senja pun perlahan turun, mewarnai langit dengan jingga keemasan, seolah merayakan reuni yang tak terduga itu.