Cerpen 2
Menu Cerpen
Jejak Sepatu di Halaman Rumah
Matahari baru saja menyingkap tabir malam saat Bu Ratna keluar ke halaman. Udara pagi masih dingin, menguapkan embun yang membasahi rerumputan. Ia baru saja akan menyiram tanaman mawar kesayangannya ketika matanya menangkap sesuatu yang ganjil. Di atas tanah basah dekat pintu gerbang, terukir jelas jejak sepatu yang asing.
Jejak itu tidak besar, menunjukkan ukuran kaki seseorang yang tidak terlalu tinggi. Pola solnya pun berbeda dari sepatu-sepatu yang biasa dipakai anggota keluarganya. Bu Ratna mengerutkan kening. Siapa yang datang sepagi ini, bahkan sebelum ayam jantan tetangga berkokok?
Pikirannya langsung tertuju pada putranya, Rio, yang kemarin malam bersitegang dengannya. Rio ingin sekali kuliah di luar kota, sementara Bu Ratna bersikeras ia tetap di Medan. Debat sengit itu berakhir dengan Rio mengurung diri di kamarnya. Apakah jejak ini miliknya? Mungkinkah Rio pergi diam-diam? Jantung Bu Ratna berdesir cemas.
Ia mengikuti jejak itu perlahan. Jejak itu mengarah ke samping rumah, melewati semak bunga melati, dan berakhir di dekat jendela kamar Rio. Bu Ratna mendekat, mengintip ke dalam. Kamar Rio kosong. Selimutnya rapi terlipat, dan mejanya bersih. Tidak ada tanda-tanda bahwa Rio baru saja berada di sana.
Kecemasan Bu Ratna semakin menjadi. Ia berbalik, mencari jejak lain. Kali ini, ia melihat jejak yang lebih kecil, sepertinya jejak kaki telanjang, di samping jejak sepatu yang tadi. Jejak itu tidak jauh, hanya beberapa langkah, seolah-olah seseorang berhenti sejenak sebelum memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanannya.
Tiba-tiba, sebuah ide melintas di benaknya. Ia ingat cerita Pak RT tentang seorang anak kecil yang sering bermain di sekitar kompleks perumahan mereka, anak yang selalu terlihat kesepian. Mungkinkah anak itu yang datang? Tapi untuk apa?
Bu Ratna kembali ke pintu gerbang. Ia memeriksa lagi jejak sepatu itu, kali ini dengan lebih teliti. Ada sedikit lumpur kering yang menempel di salah satu jejak, bukan lumpur dari halaman rumahnya. Ini lumpur dari tanah merah di dekat sungai kecil di ujung jalan.
Tiba-tiba, ia mendengar suara decitan dari sepeda tua. Kepala Bu Ratna menoleh. Terlihat Pak Joni, tetangga sebelah, yang sedang mengayuh sepedanya menuju pintu gerbang. "Pagi, Bu Ratna," sapanya ramah.
"Pagi, Pak Joni," balas Bu Ratna, masih memikirkan jejak sepatu itu.
"Oh, itu jejak sepatu siapa, Bu? Anak saya semalam main ke sini, mungkin dia lupa bawa pulang mainannya." Pak Joni menunjuk ke arah jejak sepatu dengan dagunya.
Bu Ratna tertegun. "Anak Bapak?" tanyanya, sedikit kaget.
Pak Joni mengangguk. "Iya, dia sering lewat sini kalau mau ke sungai. Semalam dia bilang mau ambil bola yang nyangkut di pohon mangga Ibu. Mungkin dia ke sini pas gelap-gelapan, makanya jejaknya baru kelihatan sekarang."
Seketika, beban di hati Bu Ratna runtuh. Jadi, itu bukan Rio. Rio baik-baik saja. Jejak sepatu itu hanyalah jejak seorang anak kecil yang mencari bolanya di tengah malam. Ia tersenyum lega.
Melihat ekspresi Bu Ratna yang berubah, Pak Joni bertanya, "Ada apa, Bu? Kok kelihatan cemas?"
Bu Ratna menggelengkan kepala, tersenyum lebih lebar. "Tidak apa-apa, Pak Joni. Hanya salah sangka. Ternyata jejak sepatu ini membawa cerita lain."
Ia memandang lagi jejak sepatu di halaman rumahnya. Kali ini, jejak itu tidak lagi terlihat asing atau mencurigakan. Jejak itu adalah pengingat bahwa kadang, hal-hal kecil yang kita lihat bisa jadi memiliki makna yang sangat berbeda dari apa yang kita kira. Dan, terkadang, kecemasan terbesar bisa sirna hanya dengan sebuah penjelasan sederhana.