Cerpen 1

Menu Cerpen

 

Secangkir Kopi di Beranda Senja

Senja itu, seperti biasanya, datang dengan warna jingga keunguan yang memudar perlahan di ufuk barat. Di beranda kayu rumahnya yang mungil, Nenek Siti menyesap perlahan secangkir kopi hitam hangatnya. Uap tipis mengepul, membawa aroma pahit yang menenangkan, berpadu dengan semilir angin sore yang membawa wangi melati dari pekarangan.

Sudah puluhan tahun rutinitas ini tak pernah berubah. Sejak suaminya, Kakek Hasan, tiada sepuluh tahun lalu, secangkir kopi di beranda senja menjadi satu-satunya teman setia Nenek Siti berbagi kisah, entah itu kisah yang terucap atau hanya bergema di benaknya. Hari ini, kisahnya adalah tentang cucu perempuannya, Rina, yang baru saja diterima di universitas impiannya di kota besar. Nenek Siti tersenyum kecil, bangga. Namun, ada sebersit rasa sepi yang menyelinap. Rumah ini akan semakin lengang.

Tiba-tiba, mata Nenek Siti tertumbuk pada sebuah kupu-kupu berwarna biru terang yang hinggap di tepi cangkirnya. Kupu-kupu itu mengepakkan sayapnya perlahan, seolah menyapa. Nenek Siti terdiam, mengamati keindahan serangga kecil itu. Teringat ia pada dongeng-dongeng lama yang diceritakan Kakek Hasan, tentang arwah yang menjelma menjadi kupu-kupu untuk mengunjungi orang-orang terkasihnya.

"Apakah itu kamu, San?" bisiknya, setengah bercanda. Kupu-kupu itu seolah mengerti, terbang mengelilingi Nenek Siti sekali, lalu melayang menuju pot bunga mawar di sudut beranda.

Nenek Siti meraih cangkirnya lagi, namun kali ini ia tidak menyesapnya. Ia melihat ke dalam pantulan permukaan kopi yang hitam legam. Di sana, sejenak ia melihat bayangan Kakek Hasan, tersenyum hangat, sama seperti dulu. Ada kehangatan yang menjalar, bukan dari kopi, melainkan dari kenangan. Kenangan akan tawa renyah Kakek Hasan, petuah bijaknya, dan pelukan eratnya yang selalu menenangkan.

Ia teringat malam pertama mereka menempati rumah ini, saat Kakek Hasan membangun beranda kecil ini dengan tangannya sendiri. "Nanti kalau sudah tua, kita minum kopi di sini setiap senja ya, Siti," kata Kakek Hasan waktu itu, matanya berbinar. Dan mereka melakukannya, selama berpuluh-puluh tahun, berbagi cerita, impian, dan kadang, hanya diam dalam kebersamaan yang menenangkan.

Kini, Nenek Siti tak lagi merasa sepi. Kupu-kupu biru itu mungkin hanya kebetulan, atau mungkin memang pesan dari Kakek Hasan. Yang jelas, kenangan akan suaminya, yang selama ini ia kira hanya ada dalam pikirannya, ternyata hidup dalam setiap sudut rumah ini, dalam setiap embusan angin senja, bahkan dalam secangkir kopi yang ia sesap.

Malam mulai merayap, menelan warna jingga di ufuk barat. Bintang-bintang mulai berkelip satu per satu. Nenek Siti menghabiskan sisa kopinya. Rasa pahitnya tak lagi terasa dominan, digantikan oleh rasa manis dari kenangan yang mengalir hangat di hatinya. Di beranda senja itu, ia tidak sendirian. Ia ditemani oleh semilir angin, kerlip bintang, dan yang terpenting, oleh cinta yang abadi.