Balada 9

 

Menu Balada

Di sebuah negeri, yang dulu terpecah-belah,
Hidup seorang pemimpin, dengan hati yang murni.
Bukan tahta yang ia cari, bukan pula megah,
Hanya kebahagiaan rakyat, di setiap hari.

Dengan bijaksana, ia merajut kembali asa,
Menyatukan perbedaan, dalam simpul persatuan.
Suaranya teduh, menenangkan jiwa yang lara,
Langkahnya tegar, memimpin dengan ketulusan.

Ia membangun jembatan, di atas jurang yang dalam,
Menghubungkan hati, yang dulu saling berjauhan.
Pendidikan ia galakkan, di setiap pagi dan malam,
Agar generasi muda, tumbuh dengan penuh kemuliaan.

Tak ada kemewahan, tak ada istana megah,
Hanya kesederhanaan, yang menjadi panutan.
Keringatnya menetes, demi bangsanya perkasa,
Menciptakan keadilan, tanpa pilih dan pandang.

Tahun-tahun berlalu, rambutnya memutih perlahan,
Namun semangatnya, tak pernah lekang oleh waktu.
Hingga tiba saatnya, ia pergi meninggalkan,
Tubuhnya kembali ke tanah, namun jasanya tak semu.

Kini, di setiap sudut negeri, namanya disebut,
Dalam doa tulus, dan cerita yang mengharukan.
Anak-anak bernyanyi, tentang sosok yang patut,
Menjadi teladan, di setiap langkah kehidupan.

Benteng yang ia bangun, bukan dari batu dan pasir,
Melainkan dari cinta, dan persatuan yang abadi.
Itulah Warisan Sang Pemimpin yang Tak Terlupakan,
Sebuah mercusuar, menerangi hingga nanti.