Balada 8
Menu Balada
Di ujung dunia, terpencil dan perkasa,
Berdirilah benteng, kebanggaan yang abadi.
Dindingnya menjulang, saksi bisu masa,
Melindungi rakyat, dari musuh yang keji.
Bertahun-tahun lamanya, ia berdiri teguh,
Menahan badai, menepis segala gempuran.
Di dalamnya, harapan bersarang tak rapuh,
Lambang perlawanan, dari setiap tekanan.
Namun, nasib berkata, musim berganti warna,
Kegelapan datang, menelan setiap cahaya.
Pasukan tiran, berbaris tanpa hentinya,
Mengepung benteng, di bawah langit jingga.
Makanan menipis, air pun kian surut,
Panah berhamburan, menghantam dinding kokoh.
Para pembela, meski lelah tak tercabut,
Berjuang sekuatnya, tanpa rasa jenuh.
Malam itu, di tengah badai yang memekak,
Gerbang berderit, menahan hantaman kuat.
Satu per satu, ksatria jatuh tergeletak,
Membasahi tanah, dengan darah yang hangat.
Di menara tertinggi, panji-panji terkibar,
Terluka robek, namun semangatnya tak padam.
Sang komandan berdiri, mata memancarkan sinar,
Menatap langit, di malam yang begitu kelam.
Fajar menyingsing, membawa kabar duka,
Benteng itu runtuh, diiringi teriakan pilu.
Nyanyian tentang Kejatuhan Benteng Terakhir terbuka,
Kisah kepahlawanan, kini menjadi lagu.
Meski benteng tak lagi berdiri menjulang,
Kisah pengorbanan mereka, takkan pernah mati.
Terukir abadi, di hati yang takkan hilang,
Semangat perlawanan, akan terus mewangi