Balada 6

 

Menu Balada

Di benteng tua, di puncak bukit batu,
Angin berdesir, membawa lagu duka.
Matahari terbenam, memerah di waktu,
Menyiratkan akhir, pada kisah yang terbuka.

Panji-panji perkasa, kebanggaan yang gagah,
Berkibar gemulai, melambaikan perpisahan.
Bukan kemenangan yang kini tercurah,
Namun ketabahan, di ambang kehampaan.

Para prajurit, dengan mata sayu nan pilu,
Berbaris rapi, seragam lusuh berdebu.
Bukan gentar, tapi sesal yang mengganggu,
Melihat takdir, tak lagi bisa diganggu.

Musuh di gerbang, ribuan jumlahnya,
Menggema genderang, memekakkan telinga.
Pilihan tiada, selain berjuang sekuatnya,
Demi kehormatan, hingga titik air mata.

Satu per satu, sang ksatria maju ke depan,
Pedang terhunus, memantulkan sinar petang.
Teriakan perang pecah, di medan pertempuran,
Darah membasahi tanah, mengiringi setiap tumbang.

Malam menjelang, bintang-bintang tak berseri,
Suara denting pedang, kini perlahan mereda.
Panji-panji itu, kini terkulai lesu,Ketika Panji-Panji Berkibar Terakhir Kali, kisah pun usai.

Namun, semangat mereka, takkan pernah padam,
Terukir abadi, di sanubari setiap insan.
Meski jasad terkapar, nama mereka tetap harum,
Sebagai pahlawan, yang berjuang tanpa batas