Balada 5

Menu Balada

Di tanah yang kering, di mana hujan pun enggan,
Debu membungkus harapan, membakar setiap jengkal.
Tanaman layu, sungai-sungai mengering perlahan,
Hidup adalah perjuangan, di bawah terik mentari.

Rakyat merana, kelaparan merajalela,
Dahaga menyiksa, setiap tarikan napas terasa berat.
Ketidakadilan merajalela, bagai monster yang perkasa,
Mencengkeram erat, menjanjikan nasib yang sekarat.

Namun, dari gubuk reot, muncul seorang hamba,
Bukan raja, bukan panglima, hanya jiwa yang tulus.
Melihat penderitaan, hatinya tak mampu berdiam,
Tekadnya membaja, untuk membelah kabut kelam.

Tanpa senjata, hanya tongkat usang di tangan,
Ia menapak jejak, di tanah yang pecah-pecah.
Mencari sumber kehidupan, di balik bebatuan,
Mengejar harapan, meski peluh terus berlimpah.

Di setiap langkah, ia menanam benih asa,
Meskipun tak tahu, apakah kelak akan tumbuh.
Berbicara pada hati yang hampa, menyulut bara,
Membangkitkan semangat, di jiwa yang nyaris runtuh.

Tantangan menghadang, pasir hisap menelan langkah,
Ular berbisa melilit, gurun memanas menyengat.
Namun tak goyah, semangatnya tetap gagah,
Jejak Sang Pembela takkan pernah surut atau cacat.

Hingga sampailah ia di oasis tersembunyi,
Sebuah mata air jernih, mengalirkan kehidupan.
Dengan sekuat tenaga, ia membukakan jalan lagi,
Air mengalir deras, membasahi setiap gundukan.

Kini, di Tanah Gersang yang dulu tak berdaya,
Mulai tumbuh tunas, menghijaukan setiap inci.
Bukan karena mukjizat, melainkan kerja kerasnya,
Sang Pembela telah menorehkan jejak abadi