Balada 4
Menu Balada
Di negeri yang damai, dulu kala bernama,
Seorang tiran berkuasa, dengan hati yang kelam.
Perintahnya mutlak, bagai titah dewata,
Rakyat tertindas, hidup dalam bayangan malam.
Harta dikuras, keadilan direnggut paksa,
Setiap suara sumbang, berakhir di tiang gantung.
Ketakutan merajai, mengikat erat jiwa,
Harapan luntur, masa depan pun terbentang kosong.
Namun, di balik dinding-dinding penindasan,
Ada bisik-bisik, tentang api yang membara.
Jiwa-jiwa pemberani, lelah akan kehampaan,
Memendam bara dendam, menanti saatnya tiba.
Seorang pemuda, dengan mata yang menyala,
Tak tahan melihat bangsanya terus merana.
Ia bangkit berdiri, menantang segala bahaya,
Meski pedangnya tumpul, suaranya menggelegar.
"Sampai kapan kita tunduk pada kezaliman?"
Seruannya membelah sunyi, mengguncang asa.
"Lebih baik mati berdiri, daripada hidup merangkak!"
Kata-katanya menulari, bagai wabah semangat.
Satu per satu, jiwa-jiwa terbangun dari tidur,
Lengan diangkat, mengepal erat, penuh tekad.
Meski tanpa senjata, hanya keyakinan yang luhur,
Mereka bersatu, menantang tiran yang bengis.
Pertempuran pecah, bukan dengan pedang dan tombak,
Melainkan dengan teriakan kebebasan yang membahana.
Tiran terkejut, melihat rakyat yang tak gentar,
Dinding penindasan runtuh, tak sanggup lagi menahan.
Meskipun banyak yang gugur, darah membasahi tanah,
Kemenangan diraih, keadilan kembali bersemi.
Balada tentang Keberanian Melawan Tirani ini,
Akan selalu dikenang, di setiap sudut negeri.