Balada 3

Menu Balada

Di tanah Deli, nun jauh di sana,
Tersebar cerita, yang membuat bulu kuduk merinding.
Tentang Bukit Tengkorak, angker tak terkira,
Tempat arwah penasaran, terus berkeliling.

Bukan pepohonan, melainkan tulang belulang,
Berserakan di puncak, saksi bisu kejamnya masa.
Kabut pekat selalu menyelimuti, samar-samar,
Suara tangis terdengar, menusuk jiwa.

Konon, di sana bersemayam kutukan lama,
Yang menghisap sukacita, dan menguras tawa.
Tak ada yang berani mendekat, apalagi singgah,
Hanya kegelapan yang berkuasa, tanpa cela.

Namun, datanglah seorang pahlawan perkasa,
Namanya tersohor, keberaniannya tiada tara.
Dengan hati tulus, ia menantang petaka,
Membawa obor kebenaran, melawan angkara.

Bukan pedang yang diangkat, bukan pula tombak,
Melainkan nyanyian doa, dan keyakinan teguh.
Langkah demi langkah, ia mendaki puncak,
Menyentuh setiap tengkorak, dengan kasih dan lugu.

Suara doa bergema, memecah kesunyian,
Cahaya ilahi memancar, menerangi bukit.
Satu per satu, arwah menemukan kedamaian,
Kabut pun sirna, kutukan perlahan menciut.

Kini Bukit Tengkorak tak lagi menakutkan,
Terang benderang, menjadi saksi abadi.
Berkat sang pahlawan, yang tak gentar melawan,
Legenda Bukit Tengkorak dan Sang Pahlawan ini akan selalu diceritakan