Balada 2
Menu Balada
Di suatu masa, kala sang surya enggan bersinar,
Seluruh negeri diselimuti kelam pekat.
Monster-monster merajalela, ketakutan merekah,
Harapan pudar, masa depan tercekat.
Namun, di antara reruntuhan asa yang hancur,
Kisah lama berbisik tentang secercah terang.
Pedang legendaris, tersembunyi jauh di sumur,
Konon mampu membelah kegelapan yang mengekang.
Seorang pemuda, dengan hati yang tak gentar,
Berani melangkah, menantang takdir yang pahit.
Bukan karena kuasa, namun jiwa yang lapar,
Akan kebebasan, walau harus berdarah dan sakit.
Melewati hutan berkabut, jurang tak berdasar,
Menghadapi iblis dengan cakar dan taring tajam.
Setiap luka di tubuhnya, tak sedikit pun gentar,
Tekadnya membaja, bagai gunung takkan karam.
Hingga sampailah ia di gua yang paling sunyi,
Di sana, tersembunyi pedang yang dinanti-nanti.
Cahaya redup memancar, aura suci tak terperi,
Menanti sang pahlawan, tuk bangkitkan kembali.
Dengan tangan gemetar, pedang itu terangkat,
Seketika kegelapan mulai retak dan pecah.
Sinar keemasan memancar, angkara musnah,
Dunia pun bernapas, dari belenggu yang pekat.
Pedang itu kini tak lagi hanya sebuah senjata,
Namun simbol harapan, bagi mereka yang berani.
Bahwa sekalipun kelam datang, akan ada cahaya,
"Kisah tentang Pedang yang Membelah Kegelapan" abadi.