Balada 10

 

Menu Balada

Di negeri yang indah, bernama Astrea nan jelita,
Seorang putri lahir, dengan paras bak permata.
Hidupnya damai, penuh tawa dan canda,
Hingga badai datang, merenggut semua yang ada.

Pasukan jahat, menyerbu tanpa ampun,
Membakar istana, membantai tanpa pandang.
Orang tua tercinta, gugur di medan lampau,
Sang putri tersisa, dengan luka yang menganga.

Ia lolos dari maut, dengan hati yang hancur,
Terpaksa bersembunyi, di reruntuhan yang sunyi.
Air mata mengalir, membasahi wajah yang jujur,
Namun di balik duka, dendam mulai menyala kini.

Bukan harta yang ia damba, bukan pula singgasana,
Hanya keadilan, untuk darah yang telah tertumpah.
Di jiwanya bersemayam, bara api yang perkasa,
Menanti saatnya tiba, tuk mengakhiri pertempah.

Tahun-tahun berlalu, ia melatih diri tanpa henti,
Mempertajam pedang, mengasah setiap jurus.
Dari seorang putri, menjadi prajurit sejati,
Tekadnya membaja, takkan pernah putus.

Ia mengumpulkan sekutu, jiwa-jiwa yang sama terluka,
Membangun kekuatan, dari abu yang berserakan.
Malam itu, di bawah rembulan yang tak bersuaka,
Pasukannya bergerak, menuju sarang kejahatan.

Pertempuran pecah, di antara gemuruh badai,
Teriakan putri menggema, membelah angkasa.
Setiap ayunan pedang, membawa amarah yang badai,
Membasahi tanah, dengan darah para durjana.

Sang tiran tumbang, di kaki putri yang berani,
Dendam terbalaskan, keadilan pun kembali.
Meskipun luka tak hilang, damai kini bersemi,
Kisah Sang Putri yang Membara akan abadi