Balada 1
Menu Balada
Di ufuk timur, mentari beringsut,
Membangunkan pejuang dari tidur singkat.
Pedang di genggam, perisai diangkat,
Untuk ibu pertiwi, jiwa direnggut.
Bukan harta atau tahta yang dicari,
Namun kebebasan, harga mati tak terperi.
Langkah tegap, mata berbinar berani,
Menyongsong takdir, di medan perang nanti.
Genderang perang bertalu, membelah angkasa,
Teriakan pejuang, menggetarkan jiwa.
Darah mengalir, bumi pun basah,
Pengorbanan suci, demi bangsa dan bahasa.
Di tengah riuh, peluru mendesing tajam,
Pejuang muda jatuh, senyumnya tetap terukir.
Meskipun gugur, semangatnya takkan padam,
Namanya abadi, dalam sejarah terukir.
Ibunda di rumah, menanti dengan cemas,
Tak tahu putra tercinta, kini telah tiada.
Namun di hati, ada bangga yang tak terbatas,
Melihat putranya pahlawan, yang berani tiada tara.
Syair ini tercipta, mengenang yang telah pergi,
Pahlawan bangsa, takkan pernah mati.
Semangatnya hidup, menerangi hari,
Demi Indonesia, abadi selamanya nanti